Jumat, 03 Juni 2016

PW 5



“KETEKUNAN”
Oleh :  Goklas Wisely
Didalam kehidupan kekristenan, meneladani yesus adalah suatu jalan hidup yang harus diterima dan jalankan. Meneladani yesus berarti menerima ajarannya serta mengaplikasikan ajarannya dalam kehidupan sehari-sehari. Untuk itu ketekunan adalah suatu point penting untuk melakukan hal tersebut. Tekun secara harafiah dapat diartikan suatu perbuatan yang dilakukan secara sungguh-sungguh. Secara umum tentu kata “ke-tekun-an” sering kita sebutkan namun, apalah daya terkadang kata tersebut hanyalah ide yang ber-terbangan di awan-awan pikir. Masih abstrak dan hanya sebatas konsep pemahaman. Lantas apakah itu yang kita inginkan?. Jika “ya”, maka hanya onani pikir-lah yang terjadi. Kenikmatan dalam berpikir. Serupa dengan filsuf yang berdiam diri dalam kamar-nya bersama dengan dunia “sana” yang begitu absurd dan tak berarti. Sungguh sia-sia jika hal tersebut terbenam dalam alam pikir. Untuk itu, apa yang harus dilakukan?. Bagaimana mengeluarkan bayi dalam kandungan seorang ibu?. Keteladanan yang masih dalam dunia ide tersebut kita ibaratkan seorang bayi yang masih dalam kandungan.Untuk mengeluarkan (bayi) ataupun mengaplikasikannya (ketekunan) tentu  penderitaan (rasa sakit) dialami seorang ibu. Sama halnya ketekunan, untuk mengaplikasikannya, kita akan melewati beberapa tahap yang begitu dihujani penderitaan, karena pada dasarnya kita sedang melawan dosa dan didalam kehidupan duniawi ini banyak godaan-godaan yang harus kita menangkan atas nama yesus. Adapun bidah untuk membantu mengeluarkan bayi tersebut layaknya kawan-kawan se-iman ataupun persekutuan yang membantu kita untuk “tekun”(bersama-sama) dalam yesus.
Apa yang harus dilakukan secara sungguh-sungguh untuk meneladani yesus?. Pertama, displin rohani. Hal inilah yang membangun hubungan serta pengenalan terhadap Tuhan semakin kuat. Contohnya, saat teduh, bible reading, pendalaman alkitab, dll. Kedua, menghadapi penderitaan. Didalam kehidupan tentu tidak luput dari namanya masalah. Namun apakah kita akan menghindar dari masalah tersebut? tidak!. Lari dari masalah hanya akan membuat masalah baru muncul, yang benar ialah menyelesaikan masalah. Kita harus siap untuk menerima apapun konsekuensinya. Semakin banyak masalah yang kita hadapi, maka semakin ter-uji iman tersebut.  Ibrani 10 : 32-33 ;
“........., kamu banyak menderita oleh karna kamu bertahan dalam perjuangan yang berat, baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang dilakukan demikian
Jika kita membandingkan dunia sekarang yang tidak lagi berada dalam zaman kolonialisme seperti dahulu, tentu penderitaan yang dialami pengikut kristus yahudi kala itu jauh lebih berat dari tantangan dunia saat ini. Kediktatoran romawi yang sewenang-wenang mengambil nyawa seseorang ketika mengusik kejahatan penguasa serta keberhalaan yang masih luas terjadi, tentu tantangan yang sangat mengerikan bagi yahudi pengikut kristus. Namun apakah kita mengalah oleh tantangan zaman abad 21 ini ? tentu tidak bagi orang yang percaya.
Seorang teolog dari brazil dalam bukunya yang berjudul, “pendidikan kaum tertindas” mengemukakan sebuah teori aktualisasi seorang kaum revolusioner yakni refleksià tindakanà praksis. Ketiga kondisi ini berdialektika serupa konsep tesis-antitesis-sintesis yang dikemukakan oleh Hegel.  Displin rohani sama halnya berefleksi, dimana kita membangun komunikasi serta pengenalan terhadap Yesus yang menjadi teladan dalam kehidupan di dunia ini. Menghadapi penderitaan adalah tindakan yang menjadi pembuktian dari apa yang kita refleksikan dan praksis ialah hasil dari refleksi dan tindakan tersebut yakni dunia berubah sesuai dengan kehendak Allah. Maka lahirlah pemuda-pemudi kristen yang revolusioner dalam nama kristus. Apakah pembaca dan penulis akan menjadi pemuda revolusioner tersebut?.
Tulisan ini hanyalah sebuah ide, hampa dan kosong. Maka penulis berharap kita dapat mengaplikasikan ke-tekunan displin rohani dan menghadapi penderitaan tersebut  dalam kehidupan sehari-hari. Salam Juang, VOR VERITAS !.

2 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar