“KETEKUNAN”
Oleh : Goklas
Wisely
Didalam kehidupan kekristenan, meneladani yesus adalah
suatu jalan hidup yang harus diterima dan jalankan. Meneladani yesus berarti
menerima ajarannya serta mengaplikasikan ajarannya dalam kehidupan sehari-sehari.
Untuk itu ketekunan adalah suatu point penting untuk melakukan hal tersebut. Tekun
secara harafiah dapat diartikan suatu perbuatan yang dilakukan secara
sungguh-sungguh. Secara umum tentu kata “ke-tekun-an” sering kita sebutkan
namun, apalah daya terkadang kata tersebut hanyalah ide yang ber-terbangan di
awan-awan pikir. Masih abstrak dan hanya sebatas konsep pemahaman. Lantas
apakah itu yang kita inginkan?. Jika “ya”, maka hanya onani pikir-lah yang
terjadi. Kenikmatan dalam berpikir. Serupa dengan filsuf yang berdiam diri
dalam kamar-nya bersama dengan dunia “sana” yang begitu absurd dan tak berarti.
Sungguh sia-sia jika hal tersebut terbenam dalam alam pikir. Untuk itu, apa
yang harus dilakukan?. Bagaimana mengeluarkan bayi dalam kandungan seorang
ibu?. Keteladanan yang masih dalam dunia ide tersebut kita ibaratkan seorang
bayi yang masih dalam kandungan.Untuk mengeluarkan (bayi) ataupun
mengaplikasikannya (ketekunan) tentu penderitaan (rasa sakit) dialami seorang ibu.
Sama halnya ketekunan, untuk mengaplikasikannya, kita akan melewati beberapa
tahap yang begitu dihujani penderitaan, karena pada dasarnya kita sedang
melawan dosa dan didalam kehidupan duniawi ini banyak godaan-godaan yang harus
kita menangkan atas nama yesus. Adapun bidah untuk membantu mengeluarkan bayi
tersebut layaknya kawan-kawan se-iman ataupun persekutuan yang membantu kita
untuk “tekun”(bersama-sama) dalam yesus.
Apa yang harus dilakukan secara sungguh-sungguh untuk
meneladani yesus?. Pertama, displin rohani. Hal inilah yang membangun hubungan
serta pengenalan terhadap Tuhan semakin kuat. Contohnya, saat teduh, bible
reading, pendalaman alkitab, dll. Kedua, menghadapi penderitaan. Didalam
kehidupan tentu tidak luput dari namanya masalah. Namun apakah kita akan menghindar
dari masalah tersebut? tidak!. Lari dari masalah hanya akan membuat masalah
baru muncul, yang benar ialah menyelesaikan masalah. Kita harus siap untuk
menerima apapun konsekuensinya. Semakin banyak masalah yang kita hadapi, maka
semakin ter-uji iman tersebut. Ibrani 10
: 32-33 ;
“........., kamu banyak menderita oleh karna kamu bertahan dalam perjuangan
yang berat, baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan,
maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang dilakukan
demikian”
Jika kita membandingkan dunia sekarang yang tidak lagi
berada dalam zaman kolonialisme seperti dahulu, tentu penderitaan yang dialami
pengikut kristus yahudi kala itu jauh lebih berat dari tantangan dunia saat
ini. Kediktatoran romawi yang sewenang-wenang mengambil nyawa seseorang ketika
mengusik kejahatan penguasa serta keberhalaan yang masih luas terjadi, tentu
tantangan yang sangat mengerikan bagi yahudi pengikut kristus. Namun apakah
kita mengalah oleh tantangan zaman abad 21 ini ? tentu tidak bagi orang yang
percaya.
Seorang teolog dari brazil dalam bukunya yang berjudul,
“pendidikan kaum tertindas” mengemukakan sebuah teori aktualisasi seorang kaum
revolusioner yakni refleksià tindakanà praksis. Ketiga kondisi ini berdialektika serupa konsep tesis-antitesis-sintesis
yang dikemukakan oleh Hegel. Displin
rohani sama halnya berefleksi, dimana kita membangun komunikasi serta
pengenalan terhadap Yesus yang menjadi teladan dalam kehidupan di dunia ini. Menghadapi
penderitaan adalah tindakan yang menjadi pembuktian dari apa yang kita
refleksikan dan praksis ialah hasil dari refleksi dan tindakan tersebut yakni
dunia berubah sesuai dengan kehendak Allah. Maka lahirlah pemuda-pemudi kristen
yang revolusioner dalam nama kristus. Apakah pembaca dan penulis akan menjadi
pemuda revolusioner tersebut?.
Tulisan ini hanyalah sebuah ide, hampa dan kosong. Maka
penulis berharap kita dapat mengaplikasikan ke-tekunan displin rohani dan
menghadapi penderitaan tersebut dalam
kehidupan sehari-hari. Salam Juang, VOR VERITAS !.
2 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar