Rabu, 29 Juni 2016

Simpang Tiga



Simpang Tiga
Sore hari ini sekitar pukul 5 sore-an, aku bersama kakak-ku melintasi jalan seputar USU se-habis berbelanja di pajus yang “tenar” itu. Didalam perjalanan pulang kami melewati simpang tiga  susuk, pembangunan dan tembok bolong USU. Pesimpangan ini tak jarang macet. Pengguna jalan yang melewati persimpangan ini di dominasi oleh mahasiswa. Wajar, wong di jalan pembangunan dan susuk tempat kos-kos-an mahasiswa toh. Ditambah lagi tembok bolong tersebut penghubung antara kampung susuk dengan USU jadi sangat strategis untuk dilalui oleh mahasiswa yang ber-tempat tinggal di daerah susuk dan sekitarnya karna jarak tempuh yang dekat.
“Kiri-kiri” suara pekik seorang wanita. Aku sedikit heran apa yang ia sedang lakukan dalam kondisi macet ini. Pikirku ia sedang berantam dengan seseorang sehingga menyebabkan macet di simpang tiga tersebut. Ku-gas keretaku lebih kencang untuk mulai mendekat. “STOP!! Yang ini maju duluan. Gak bisa ke depan bang, lewat sini aja” tegur wanita tersebut dengan senyum-nan ramah. Ya, wanita itu sedang menertibkan jalanan agar tidak macet. Hal yang tak kalah menarik disaat aku melihat seorang pengemudi mobil yang memberikan ia uang, menurutku itu wajar atas tindakan mulia-nya.
Sejenak aku terkesima menyaksikan aksi seorang wanita sekitar umur 50-an dengan celana hitam se-betis dan baju kecoklatan sedang berdiri, berteriak mencoba mengatasi kemacetan yang ada didepan mata. Setelah aku melewati kemacetan tersebut aku mulai merenungkan beberapa hal. Rasanya ada yang menjaggal dipikirku. Sepenglihatan mataku pengguna jalan 90% mahasiswa namun yang memiliki kegelisahan hingga turun ke jalan untuk mengambil tindakan  menyelesaikan kemacetan adalah seorang wanita, yang menurut asumsiku seorang istri penjual es disekitar samping bengkel. What the hell!. Mengapa mahasiswa yang dari 90% tersebut hanya bisa melihat?. Bukankah seorang mahasiswa yang notabene ialah kaum akademisi memiliki peran untuk meretas permasalahan masyarakat?. Kalo memang iya mengapa tak ada mahasiswa yang turun melihat kemacetan ini?. tidak, tidak.
Dari kejadiaan ini aku menarik kesimpulan sepertinya ada yang salah dengan dunia ke-Mahasiswa-an saat ini, ter-khususnya mahasiswa USU. Pandangan ini memang streotipe, dan saya memakai pandangan ini. Mahasiswa yang berperan “meretas” permasalahan masyarakat sepertinya berubah menjadi “membuat” permasalahan di masyarakat. Melihat kemacetan yang timbul, dapat disebabkan beberapa hal :
Pertama, kuota kendaraan bermotor roda dua dan roda empat (mobil dan becak) yang melintas dari simpang tiga tersebut melebihi ruas jalan yang sempit. Kedua, ketidak-tertiban. Dominan pengendara menonjolkan egonya masing-masing agar cepat melintasi jalur macet. Hal ini tampak disaat beberapa pengendara motor yang berdesakan di tembok bolong USU tanpa menghiraukan antrian panjang pengendara lainnya yang bersabar agar dapat masuk secara teratur. Alhasil pengendara tersebut bukannya berhasil melewati lintas macet namun memperpanjang barisan memacetkan jalan.
Melihat penyebab yang secara subjektif yakni pengguna kendaraan adalah mahasiswa, terang sudah bahwa ketidak-bijakan pengguna kendaraan dalam mengambil sikap menyebabkan kemacetan semakin panjang. Namun siapa yang yang pada akhirnya ber-usaha untuk meretas kemacetan tersebut?  yakni “wanita” yang ntah siapa namaya sungguh terpuji tindakannya. Hal ini membuatku melihat, semakin nyata kata-kata yang pernah terdengar dari teman-temanku bahwa mahasiswa saat ini hanya menjadi ”objek” perindustrian ataupun pasar bebas. Alhasil mahasiswa hanya berorientasi pada UANG. Saya yakin juga tak jarang siswa-siswa yang ingin masuk ke dunia ke-mahasiswa-an bukan dengan semangat Tri Dharma, melainkan semangat untuk mendapat pekerjaan yang memiliki gaji besar yang pada akhirnya maahasiswa tersebut kuliah berorientasi pada nilai (IPK) bukan pada pembobotan diri. Tak heran toh banyak mahasiswa yang mencotek waktu ujian karena yang ditakutkan adalah nilai IPK yang buruk bukan pengetahuan diri yang minim.
Disamping itu juga system pendidikan saat ini lebih mengarah pada sistem gaya bank (paolo freire) yakni menghapal dan jauh dari realitas. Ruang-ruang akademik itu hanyalah kumpulan orang-orangan layak militerisasi dimana pendidik sebagai subjek dan peserta didik sebagai objek. Pendidik menuangkan isi kepalanya kepada peserta didik. Alhasil isi kepala peserta didik hanya sebatas isi kelapa pendidik. Mirisnya lagi apa yang dikatakan pendidik tampak sebagai suatu kebenaran bagi peseta didik tanpa verifikasi dengan permasalahan yang ada. Wong jauh dari realitas toh.
Etre-pour-les-autres, ada bagi orang lain (Sarte, tokoh eksistensialisme). Mungkin inilah yang terjadi pada diri mahasiswa saat ini. Artinya meng”ada”-nya mahasiswa hanya sebatas apa yang orang lain (pengajar) proyeksikan padanya, sehingga mahasiswa tersebut tidak menjadi dirinya melainkan replika ataupun gambaran dari keinginan pendidik. Melihat system (gaya bank) yang menjauhkan mahasiswa dari realitas tentu membuat ke-kakuan/tidak sensitif saat dihadapkan dengan permasalahan yang ada. Maka sungguh kata yang utopis disaat mahasiswa dikatakan sebagai Agen Of Change. Bagaimana mungkin menjadi agen perubahan bangsa ke –arah yang lebih baik kalau masalah macet simpang tiga susuk saja sudah takhluk!. Sungguh pelajaran serta sindiran bagiku sebagai seorang mahasiswa.
Kejadian itu memberikan “pesan” padaku dan aku menuliskan-nya berdasarkan pemahamanku, seterusnya aku membagikan pesan tersebut pada “mereka”. Mereka yang membaca tulisanku. VOR VERITAS!
28 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar