Simpang Tiga
Sore hari
ini sekitar pukul 5 sore-an, aku bersama kakak-ku melintasi jalan seputar USU se-habis
berbelanja di pajus yang “tenar” itu. Didalam perjalanan pulang kami melewati
simpang tiga susuk, pembangunan dan
tembok bolong USU. Pesimpangan ini tak jarang macet. Pengguna jalan yang
melewati persimpangan ini di dominasi oleh mahasiswa. Wajar, wong di jalan
pembangunan dan susuk tempat kos-kos-an mahasiswa toh. Ditambah lagi tembok
bolong tersebut penghubung antara kampung susuk dengan USU jadi sangat
strategis untuk dilalui oleh mahasiswa yang ber-tempat tinggal di daerah susuk
dan sekitarnya karna jarak tempuh yang dekat.
“Kiri-kiri”
suara pekik seorang wanita. Aku sedikit heran apa yang ia sedang lakukan dalam
kondisi macet ini. Pikirku ia sedang berantam dengan seseorang sehingga
menyebabkan macet di simpang tiga tersebut. Ku-gas keretaku lebih kencang untuk
mulai mendekat. “STOP!! Yang ini maju duluan. Gak bisa ke depan bang, lewat
sini aja” tegur wanita tersebut dengan senyum-nan ramah. Ya, wanita itu sedang
menertibkan jalanan agar tidak macet. Hal yang tak kalah menarik disaat aku
melihat seorang pengemudi mobil yang memberikan ia uang, menurutku itu wajar
atas tindakan mulia-nya.
Sejenak aku
terkesima menyaksikan aksi seorang wanita sekitar umur 50-an dengan celana
hitam se-betis dan baju kecoklatan sedang berdiri, berteriak mencoba mengatasi
kemacetan yang ada didepan mata. Setelah aku melewati kemacetan tersebut aku
mulai merenungkan beberapa hal. Rasanya ada yang menjaggal dipikirku.
Sepenglihatan mataku pengguna jalan 90% mahasiswa namun yang memiliki
kegelisahan hingga turun ke jalan untuk mengambil tindakan menyelesaikan kemacetan adalah seorang wanita,
yang menurut asumsiku seorang istri penjual es disekitar samping bengkel. What
the hell!. Mengapa mahasiswa yang dari 90% tersebut hanya bisa melihat?.
Bukankah seorang mahasiswa yang notabene ialah kaum akademisi memiliki peran
untuk meretas permasalahan masyarakat?. Kalo memang iya mengapa tak ada
mahasiswa yang turun melihat kemacetan ini?. tidak, tidak.
Dari
kejadiaan ini aku menarik kesimpulan sepertinya ada yang salah dengan dunia
ke-Mahasiswa-an saat ini, ter-khususnya mahasiswa USU. Pandangan ini memang
streotipe, dan saya memakai pandangan ini. Mahasiswa yang berperan “meretas”
permasalahan masyarakat sepertinya berubah menjadi “membuat” permasalahan di
masyarakat. Melihat kemacetan yang timbul, dapat disebabkan beberapa hal :
Pertama,
kuota kendaraan bermotor roda dua dan roda empat (mobil dan becak) yang
melintas dari simpang tiga tersebut melebihi ruas jalan yang sempit. Kedua,
ketidak-tertiban. Dominan pengendara menonjolkan egonya masing-masing agar
cepat melintasi jalur macet. Hal ini tampak disaat beberapa pengendara motor
yang berdesakan di tembok bolong USU
tanpa menghiraukan antrian panjang pengendara lainnya yang bersabar agar dapat
masuk secara teratur. Alhasil pengendara tersebut bukannya berhasil melewati
lintas macet namun memperpanjang barisan memacetkan jalan.
Melihat
penyebab yang secara subjektif yakni pengguna kendaraan adalah mahasiswa, terang
sudah bahwa ketidak-bijakan pengguna kendaraan dalam mengambil sikap menyebabkan
kemacetan semakin panjang. Namun siapa yang yang pada akhirnya ber-usaha untuk
meretas kemacetan tersebut? yakni
“wanita” yang ntah siapa namaya sungguh terpuji tindakannya. Hal ini membuatku
melihat, semakin nyata kata-kata yang pernah terdengar dari teman-temanku bahwa
mahasiswa saat ini hanya menjadi ”objek” perindustrian ataupun pasar bebas.
Alhasil mahasiswa hanya berorientasi pada UANG. Saya yakin juga tak jarang
siswa-siswa yang ingin masuk ke dunia ke-mahasiswa-an bukan dengan semangat Tri
Dharma, melainkan semangat untuk mendapat pekerjaan yang memiliki gaji besar
yang pada akhirnya maahasiswa tersebut kuliah berorientasi pada nilai (IPK)
bukan pada pembobotan diri. Tak heran toh banyak mahasiswa yang mencotek waktu ujian karena yang
ditakutkan adalah nilai IPK yang buruk bukan pengetahuan diri yang minim.
Disamping
itu juga system pendidikan saat ini lebih mengarah pada sistem gaya bank (paolo
freire) yakni menghapal dan jauh dari realitas. Ruang-ruang akademik itu
hanyalah kumpulan orang-orangan layak militerisasi dimana pendidik sebagai
subjek dan peserta didik sebagai objek. Pendidik menuangkan isi kepalanya
kepada peserta didik. Alhasil isi kepala peserta didik hanya sebatas isi kelapa
pendidik. Mirisnya lagi apa yang dikatakan pendidik tampak sebagai suatu
kebenaran bagi peseta didik tanpa verifikasi dengan permasalahan yang ada. Wong
jauh dari realitas toh.
Etre-pour-les-autres,
ada bagi orang lain (Sarte, tokoh eksistensialisme). Mungkin inilah yang
terjadi pada diri mahasiswa saat ini. Artinya meng”ada”-nya mahasiswa hanya
sebatas apa yang orang lain (pengajar) proyeksikan padanya, sehingga mahasiswa
tersebut tidak menjadi dirinya melainkan replika ataupun gambaran dari
keinginan pendidik. Melihat system (gaya bank) yang menjauhkan mahasiswa dari
realitas tentu membuat ke-kakuan/tidak sensitif saat dihadapkan dengan
permasalahan yang ada. Maka sungguh kata yang utopis disaat mahasiswa dikatakan
sebagai Agen Of Change. Bagaimana mungkin menjadi agen perubahan bangsa ke
–arah yang lebih baik kalau masalah macet simpang tiga susuk saja sudah
takhluk!. Sungguh pelajaran serta sindiran bagiku sebagai seorang mahasiswa.
Kejadian itu memberikan “pesan”
padaku dan aku menuliskan-nya berdasarkan pemahamanku, seterusnya aku
membagikan pesan tersebut pada “mereka”. Mereka yang membaca tulisanku. VOR
VERITAS!
28 Juni 2016