Rabu, 29 Juni 2016

Aku dan Diriku



Aku dan Diriku
Suara –suara itu melahirkanku,,
Pikir-pikir itu membentukku,,
Orang-orang itu adalah kaum tua duniaku,,

Aku dengan namaku,,
Bukanlah aku, karna penamaanku alih pikir orangtuaku,
Aku dengan agamaku,,
Bukanlah aku, karna kepercayaan oleh ketidaktahuanku,
Aku dengan pikirku,,
Bukanlah aku, karna otakku rekam  pikir pendidikku,,
Aku dengan perutku,,
Bukanlah aku, karna peluh itu oleh penyayangku,,

Gerak-gerikku oleh fana alam pikirku,,
Pernyataanku hanya kata kosong dari langit-langit dunia ide ku,,
Tidak !
Setidaknya ujung pena ini membantu menggoreskan kata-kataku
Membentuknya menjadi sebuah kalimat, paragraf hingga menjadi gagasanku,
Gagasan tentang aku atas pikirku
Akankah aku adalah diriku?
Atau diriku adalah aku?



15 juni 2016, 21: 18

Simpang Tiga



Simpang Tiga
Sore hari ini sekitar pukul 5 sore-an, aku bersama kakak-ku melintasi jalan seputar USU se-habis berbelanja di pajus yang “tenar” itu. Didalam perjalanan pulang kami melewati simpang tiga  susuk, pembangunan dan tembok bolong USU. Pesimpangan ini tak jarang macet. Pengguna jalan yang melewati persimpangan ini di dominasi oleh mahasiswa. Wajar, wong di jalan pembangunan dan susuk tempat kos-kos-an mahasiswa toh. Ditambah lagi tembok bolong tersebut penghubung antara kampung susuk dengan USU jadi sangat strategis untuk dilalui oleh mahasiswa yang ber-tempat tinggal di daerah susuk dan sekitarnya karna jarak tempuh yang dekat.
“Kiri-kiri” suara pekik seorang wanita. Aku sedikit heran apa yang ia sedang lakukan dalam kondisi macet ini. Pikirku ia sedang berantam dengan seseorang sehingga menyebabkan macet di simpang tiga tersebut. Ku-gas keretaku lebih kencang untuk mulai mendekat. “STOP!! Yang ini maju duluan. Gak bisa ke depan bang, lewat sini aja” tegur wanita tersebut dengan senyum-nan ramah. Ya, wanita itu sedang menertibkan jalanan agar tidak macet. Hal yang tak kalah menarik disaat aku melihat seorang pengemudi mobil yang memberikan ia uang, menurutku itu wajar atas tindakan mulia-nya.
Sejenak aku terkesima menyaksikan aksi seorang wanita sekitar umur 50-an dengan celana hitam se-betis dan baju kecoklatan sedang berdiri, berteriak mencoba mengatasi kemacetan yang ada didepan mata. Setelah aku melewati kemacetan tersebut aku mulai merenungkan beberapa hal. Rasanya ada yang menjaggal dipikirku. Sepenglihatan mataku pengguna jalan 90% mahasiswa namun yang memiliki kegelisahan hingga turun ke jalan untuk mengambil tindakan  menyelesaikan kemacetan adalah seorang wanita, yang menurut asumsiku seorang istri penjual es disekitar samping bengkel. What the hell!. Mengapa mahasiswa yang dari 90% tersebut hanya bisa melihat?. Bukankah seorang mahasiswa yang notabene ialah kaum akademisi memiliki peran untuk meretas permasalahan masyarakat?. Kalo memang iya mengapa tak ada mahasiswa yang turun melihat kemacetan ini?. tidak, tidak.
Dari kejadiaan ini aku menarik kesimpulan sepertinya ada yang salah dengan dunia ke-Mahasiswa-an saat ini, ter-khususnya mahasiswa USU. Pandangan ini memang streotipe, dan saya memakai pandangan ini. Mahasiswa yang berperan “meretas” permasalahan masyarakat sepertinya berubah menjadi “membuat” permasalahan di masyarakat. Melihat kemacetan yang timbul, dapat disebabkan beberapa hal :
Pertama, kuota kendaraan bermotor roda dua dan roda empat (mobil dan becak) yang melintas dari simpang tiga tersebut melebihi ruas jalan yang sempit. Kedua, ketidak-tertiban. Dominan pengendara menonjolkan egonya masing-masing agar cepat melintasi jalur macet. Hal ini tampak disaat beberapa pengendara motor yang berdesakan di tembok bolong USU tanpa menghiraukan antrian panjang pengendara lainnya yang bersabar agar dapat masuk secara teratur. Alhasil pengendara tersebut bukannya berhasil melewati lintas macet namun memperpanjang barisan memacetkan jalan.
Melihat penyebab yang secara subjektif yakni pengguna kendaraan adalah mahasiswa, terang sudah bahwa ketidak-bijakan pengguna kendaraan dalam mengambil sikap menyebabkan kemacetan semakin panjang. Namun siapa yang yang pada akhirnya ber-usaha untuk meretas kemacetan tersebut?  yakni “wanita” yang ntah siapa namaya sungguh terpuji tindakannya. Hal ini membuatku melihat, semakin nyata kata-kata yang pernah terdengar dari teman-temanku bahwa mahasiswa saat ini hanya menjadi ”objek” perindustrian ataupun pasar bebas. Alhasil mahasiswa hanya berorientasi pada UANG. Saya yakin juga tak jarang siswa-siswa yang ingin masuk ke dunia ke-mahasiswa-an bukan dengan semangat Tri Dharma, melainkan semangat untuk mendapat pekerjaan yang memiliki gaji besar yang pada akhirnya maahasiswa tersebut kuliah berorientasi pada nilai (IPK) bukan pada pembobotan diri. Tak heran toh banyak mahasiswa yang mencotek waktu ujian karena yang ditakutkan adalah nilai IPK yang buruk bukan pengetahuan diri yang minim.
Disamping itu juga system pendidikan saat ini lebih mengarah pada sistem gaya bank (paolo freire) yakni menghapal dan jauh dari realitas. Ruang-ruang akademik itu hanyalah kumpulan orang-orangan layak militerisasi dimana pendidik sebagai subjek dan peserta didik sebagai objek. Pendidik menuangkan isi kepalanya kepada peserta didik. Alhasil isi kepala peserta didik hanya sebatas isi kelapa pendidik. Mirisnya lagi apa yang dikatakan pendidik tampak sebagai suatu kebenaran bagi peseta didik tanpa verifikasi dengan permasalahan yang ada. Wong jauh dari realitas toh.
Etre-pour-les-autres, ada bagi orang lain (Sarte, tokoh eksistensialisme). Mungkin inilah yang terjadi pada diri mahasiswa saat ini. Artinya meng”ada”-nya mahasiswa hanya sebatas apa yang orang lain (pengajar) proyeksikan padanya, sehingga mahasiswa tersebut tidak menjadi dirinya melainkan replika ataupun gambaran dari keinginan pendidik. Melihat system (gaya bank) yang menjauhkan mahasiswa dari realitas tentu membuat ke-kakuan/tidak sensitif saat dihadapkan dengan permasalahan yang ada. Maka sungguh kata yang utopis disaat mahasiswa dikatakan sebagai Agen Of Change. Bagaimana mungkin menjadi agen perubahan bangsa ke –arah yang lebih baik kalau masalah macet simpang tiga susuk saja sudah takhluk!. Sungguh pelajaran serta sindiran bagiku sebagai seorang mahasiswa.
Kejadian itu memberikan “pesan” padaku dan aku menuliskan-nya berdasarkan pemahamanku, seterusnya aku membagikan pesan tersebut pada “mereka”. Mereka yang membaca tulisanku. VOR VERITAS!
28 Juni 2016

Jumat, 03 Juni 2016

PW 5



“KETEKUNAN”
Oleh :  Goklas Wisely
Didalam kehidupan kekristenan, meneladani yesus adalah suatu jalan hidup yang harus diterima dan jalankan. Meneladani yesus berarti menerima ajarannya serta mengaplikasikan ajarannya dalam kehidupan sehari-sehari. Untuk itu ketekunan adalah suatu point penting untuk melakukan hal tersebut. Tekun secara harafiah dapat diartikan suatu perbuatan yang dilakukan secara sungguh-sungguh. Secara umum tentu kata “ke-tekun-an” sering kita sebutkan namun, apalah daya terkadang kata tersebut hanyalah ide yang ber-terbangan di awan-awan pikir. Masih abstrak dan hanya sebatas konsep pemahaman. Lantas apakah itu yang kita inginkan?. Jika “ya”, maka hanya onani pikir-lah yang terjadi. Kenikmatan dalam berpikir. Serupa dengan filsuf yang berdiam diri dalam kamar-nya bersama dengan dunia “sana” yang begitu absurd dan tak berarti. Sungguh sia-sia jika hal tersebut terbenam dalam alam pikir. Untuk itu, apa yang harus dilakukan?. Bagaimana mengeluarkan bayi dalam kandungan seorang ibu?. Keteladanan yang masih dalam dunia ide tersebut kita ibaratkan seorang bayi yang masih dalam kandungan.Untuk mengeluarkan (bayi) ataupun mengaplikasikannya (ketekunan) tentu  penderitaan (rasa sakit) dialami seorang ibu. Sama halnya ketekunan, untuk mengaplikasikannya, kita akan melewati beberapa tahap yang begitu dihujani penderitaan, karena pada dasarnya kita sedang melawan dosa dan didalam kehidupan duniawi ini banyak godaan-godaan yang harus kita menangkan atas nama yesus. Adapun bidah untuk membantu mengeluarkan bayi tersebut layaknya kawan-kawan se-iman ataupun persekutuan yang membantu kita untuk “tekun”(bersama-sama) dalam yesus.
Apa yang harus dilakukan secara sungguh-sungguh untuk meneladani yesus?. Pertama, displin rohani. Hal inilah yang membangun hubungan serta pengenalan terhadap Tuhan semakin kuat. Contohnya, saat teduh, bible reading, pendalaman alkitab, dll. Kedua, menghadapi penderitaan. Didalam kehidupan tentu tidak luput dari namanya masalah. Namun apakah kita akan menghindar dari masalah tersebut? tidak!. Lari dari masalah hanya akan membuat masalah baru muncul, yang benar ialah menyelesaikan masalah. Kita harus siap untuk menerima apapun konsekuensinya. Semakin banyak masalah yang kita hadapi, maka semakin ter-uji iman tersebut.  Ibrani 10 : 32-33 ;
“........., kamu banyak menderita oleh karna kamu bertahan dalam perjuangan yang berat, baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang dilakukan demikian
Jika kita membandingkan dunia sekarang yang tidak lagi berada dalam zaman kolonialisme seperti dahulu, tentu penderitaan yang dialami pengikut kristus yahudi kala itu jauh lebih berat dari tantangan dunia saat ini. Kediktatoran romawi yang sewenang-wenang mengambil nyawa seseorang ketika mengusik kejahatan penguasa serta keberhalaan yang masih luas terjadi, tentu tantangan yang sangat mengerikan bagi yahudi pengikut kristus. Namun apakah kita mengalah oleh tantangan zaman abad 21 ini ? tentu tidak bagi orang yang percaya.
Seorang teolog dari brazil dalam bukunya yang berjudul, “pendidikan kaum tertindas” mengemukakan sebuah teori aktualisasi seorang kaum revolusioner yakni refleksià tindakanà praksis. Ketiga kondisi ini berdialektika serupa konsep tesis-antitesis-sintesis yang dikemukakan oleh Hegel.  Displin rohani sama halnya berefleksi, dimana kita membangun komunikasi serta pengenalan terhadap Yesus yang menjadi teladan dalam kehidupan di dunia ini. Menghadapi penderitaan adalah tindakan yang menjadi pembuktian dari apa yang kita refleksikan dan praksis ialah hasil dari refleksi dan tindakan tersebut yakni dunia berubah sesuai dengan kehendak Allah. Maka lahirlah pemuda-pemudi kristen yang revolusioner dalam nama kristus. Apakah pembaca dan penulis akan menjadi pemuda revolusioner tersebut?.
Tulisan ini hanyalah sebuah ide, hampa dan kosong. Maka penulis berharap kita dapat mengaplikasikan ke-tekunan displin rohani dan menghadapi penderitaan tersebut  dalam kehidupan sehari-hari. Salam Juang, VOR VERITAS !.

2 Juni 2016