Senin, 19 September 2016

Nyayian Bisu



Nyayian  Bisu

Aku angkatan gagap persoalan bangsa
Aku di duduk-kan diatas menara gading
Penuh keindahan menutup mata atas sejuta derita
Hakikat untuk kesejahteraan terombang oleh  perdagangan

Untung, untung dan hanya untung
Kaum proletar  digantung
Para borjuis bersanandung
Dan aku menyanjung

Diam, diam, dan diam
Mulutku terkunci atas ketidak-tahuaan
Terbelenggu oleh pembodohan
Dan berakhir sebagai pengangguran

Inikah Pendidikan ?

 Selasa, 20 september 2016

Jumat, 22 Juli 2016

Angel



Angel
Matamu begitu menyimpan kelam atas kesendirian
Namun kelam itu tak menghilangkan aura indah yang melekat pada dirimu
Keindahan itu tak hanya terletak pada paras wajahmu
Kesalehan didalam dirimu membuatku jatuh pada sisi indah lain dalam dirimu
Dirimu berbeda dengan mereka
Mereka yg diatas menara gading hanyut dalam surga halusinasi
Jika pelajaran bukanlah kata kosong
Tindakan-lah yang memberi arti
Tidak hanya lapal melainkan pengertian
Itulah dirimu

Kala awan dan tanah mulai berbeda dari pandangmu
Kiranya saat itu kebenaran, bukan lagi “awan” jauh tak tersentuh oleh tanganmu
Bukan juga tanah yang nantinya kau pijak oleh kakimu
Tapi biarlah kebenaran itu adalah dirimu
Dan dirimu adalah bersama kaummu
Dirimu bersama ciptaan sang penciptamu
Dirimu bersama dunia didalam ruang dan waktu-mu
Maka kehancuran dunia bukanlah oleh dirimu
Melainkan kedamaian dunia ialah kamu

17 July 2016, 12:03



Engkau Dalam Kenang-ku



Engkau Dalam Kenang-ku
Puing-puing kenangan itu mengejarku
Menerkam dan menggerogoti hati dan pikiranku

Lagu ini menghantarku saat aku bersamamu
Didalam ruang dan waktu sang pencipta
Hari-hari itu kita ukir bersama
Aku bahagia dan kau-pun bahagia

Namun kini tembok kita bangun bersama
Kita kembali terpisah diatas risalah jiwa
Dingin ini membuatku menggigil atas kesendirian
Kuharap kau tidak!

Simpanlah kenang ini jadi kodrat hidup masa lampau
Betapa binar-binar mata saat menatapnya
Dan tetes air mata adalah kebahagiaan
Terimakasih untuk semuanya
Wahai kisah, kau begitu indahnya


20 Juli 2016

Rabu, 13 Juli 2016

SAJAK



SAJAK
Sajak,, engkaulah wakil suara-suara kepedihan ini
Kala air mata tercucur deras menghujam pertiwi
Beribu-ribu anak dijalanan mencari nasi
Diatas aspal dibawah bangunan-bangunan tinggi

Sajak,, lihatlah dibawah topi jerami
Pak tani tak lagi dapat menuai padi
Sebab diatas tanah kini berdiri pabrik-pabrik industri
Kaum buruh kerja dari pagi hingga malam hari
Tenaganya diperas diatas cukong yang menari-nari

Sajak,, penderitaaan ini akan ada didalam dirimu
Sebab penderitaan ini akan membentur tembok kuasa wakil rakyatku
Sebab penderitaan ini akan membawa kabar buruk bagi penguasa negeriku
Sebab penderitaan ini akan menciptakan pemberontakan pada bangsaku
 Dan Aku akan ada selalu bersamamu


14 July 2016






Sabtu, 02 Juli 2016

Negara "bersama Kamu Memberi



Negara “bersama” Kamu Memberi
“Jangan tanyakan apa yang telah diberikan negara kepadamu, tetapi tanyaka-lah  apa yang telah kamu berikan kepada negara”
Kata-kata ini sangat sering terdengar disaat diskusi alot yang dominan peserta diskusi mulai menyalahkan “negara” namun segelintir peserta lainnya mendukung negara. Adapun peserta pendukung negara tersebut menajamkan pertanyaan-nya, “kita jangan hanya menuntut, sudah apa yang kita lakukan kepada negara rupanya?”. 
Apa yang mau kuberikan kepada negara? 
Uang? Aku miskin. Tenaga? Aku sakit. Ide ? aku tak tahu apa-apa. Hidupku jauh dan “di” jauhi oleh bangunan megah (penghuni) tempat orang-orang yang katanya terdidik itu. Ingin mengharumkan nama bangsa? “maaf”. Aku tak tahu apa-apa. Aku hanya anak pinggiran yang ber-sahabat karib dengan rasa lapar. Apa yang mau kuberi atas ketidak-berdayaanku?. (ilustrasi suara anak pinggiran dalam alam pikirku).

Sejak teori negara didasarkan pada aspek sosiologis (kontrak sosial) maka disaat itu negara diartikan sebagai institusi yang bergerak atas kehendak umum masyarakat hingga pada akhirnya lahir konsep negara yakni Demokrasi (dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakya, Abraham). Salah satu kehendak-umum yang tercantum dalam UUD RI ialah mensejahterakan dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Disaat kita aksi (demontrasi) melawan sistem  negara yang melanggengkan penindasan (misalkan sistem pendidikan mejadikan peserta didik sebagai “objek” pasar Global) bukankah suatu wujud sumbangsih untuk me-manifestasi-kan kehendak-umum masyarakat tersebut? memang tindakan ini bukanlah mengharumkan nama negara dimata negeri luar karena itu bukanlah hal yang terlalu penting dibandingkan mengharumkan nama negara dimata pemungut sampah, pengamen jalanan, “ayam” jalanan dll. Vor Veritas!