Sabtu, 02 Juli 2016

Negara "bersama Kamu Memberi



Negara “bersama” Kamu Memberi
“Jangan tanyakan apa yang telah diberikan negara kepadamu, tetapi tanyaka-lah  apa yang telah kamu berikan kepada negara”
Kata-kata ini sangat sering terdengar disaat diskusi alot yang dominan peserta diskusi mulai menyalahkan “negara” namun segelintir peserta lainnya mendukung negara. Adapun peserta pendukung negara tersebut menajamkan pertanyaan-nya, “kita jangan hanya menuntut, sudah apa yang kita lakukan kepada negara rupanya?”. 
Apa yang mau kuberikan kepada negara? 
Uang? Aku miskin. Tenaga? Aku sakit. Ide ? aku tak tahu apa-apa. Hidupku jauh dan “di” jauhi oleh bangunan megah (penghuni) tempat orang-orang yang katanya terdidik itu. Ingin mengharumkan nama bangsa? “maaf”. Aku tak tahu apa-apa. Aku hanya anak pinggiran yang ber-sahabat karib dengan rasa lapar. Apa yang mau kuberi atas ketidak-berdayaanku?. (ilustrasi suara anak pinggiran dalam alam pikirku).

Sejak teori negara didasarkan pada aspek sosiologis (kontrak sosial) maka disaat itu negara diartikan sebagai institusi yang bergerak atas kehendak umum masyarakat hingga pada akhirnya lahir konsep negara yakni Demokrasi (dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakya, Abraham). Salah satu kehendak-umum yang tercantum dalam UUD RI ialah mensejahterakan dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Disaat kita aksi (demontrasi) melawan sistem  negara yang melanggengkan penindasan (misalkan sistem pendidikan mejadikan peserta didik sebagai “objek” pasar Global) bukankah suatu wujud sumbangsih untuk me-manifestasi-kan kehendak-umum masyarakat tersebut? memang tindakan ini bukanlah mengharumkan nama negara dimata negeri luar karena itu bukanlah hal yang terlalu penting dibandingkan mengharumkan nama negara dimata pemungut sampah, pengamen jalanan, “ayam” jalanan dll. Vor Veritas!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar