Jumat, 01 Juli 2016

“Allan Bersama Bom-Nya”



     Eksperimental, humor, dan bersahaja, sepertinya itulah kata ungkapan yang dapat mewakili kesan saya terhadap tokoh dalam Novel karya seorang Jonas Jonasson, “The 100-Years-Old Man Who Climbed Out Of The Window and Disappeared” ini. Disaat lembar awal mulai memenuhi mata dan pikiran mulai mencerna makna kata, maka disaat itu seperti ada sesuatu yang membuatku terikat hingga tidak menyurutkan semangatku untuk mengetahui kisah seorang Allan (tokoh utama) yang begitu menakjubkan. Perjalanan hidup yang begitu fantastis.

           Ia dapat saya katakan adalah seorang petualang yang betul-betul gigih dengan prinsipnya sendiri tanpa terpengaruhi oleh orang lain. Tampak dari sikapnya yang sangat tidak suka disaat seseorang membahas politik meskipun pada kenyataannya dalam cerita, segala petualangannya berada dalam lingkar politik (Prinsip). Bahkan berada pada zona yang sangat berbahaya. Kisah Allan mengambarkan kondisi abad 20-an, saat itu terjadi suatu pertempuran ideologi yang dilatarbelakangi oleh dua negara kuat dimana negara-negara tersebut ingin menguasai dunia sesuai dengan ideologi yang dianut masing-masing. Biasanya kalo di SMA, guru sejarah sering menjelaskan dengan pertempuran antara blok barat dan blok timur. Komunis dan kapitalis. Disaat kita membaca buku mengenai sejarah akan peristiwa ini, mungkin membawa kita pada suatu yang ekstrem dan ya sedikit menjenuhkan.
Namun didalam kisah Allan hal itu dikemas sedemikian rupa hingga menjadi suatu bingkisan jenaka yang luar biasa. Kocak, sangat kocak. Tak kalah menariknya diakhir petualangannya ia memilih Indonesia sebagai tempat peristirahatannya bersama istrinya. Ia sedikit menceritakan akan kondisi politik Indonesia yang sama saja dengan yang sekarang, korup dan gampang disogok. Cukup terkagum dari tokoh Allan yang diciptakan Jasson. Nilai-nilai yang ingin disampaikan sungguh begitu terasa. Misalkan saja, “komitmen” yang menjadikan Allan sebagai pribadi yang khas/unik. Adapun yang lain adalah dimana Allan menjadikan dunia sebagai wadah eksperimen. Tiap perjalanan-nya, ia tak pernah menolak sebelum ia mencobanya.
Ia dapat dikatakan seorang ateis namun tetap memiliki moral atau jiwa kemanusiaan yang baik. Itu dapat terlihat disaat para tentara Amerika mecoba untuk memperkosa istri selir Mao The Thung, namun ia membawa sang istri Mao jauh agar tidak diperkosa. Adapun sisi lain dari dirinya adalah sosok yang sangat jujur terkecuali disaat sang jaksa mencoba membuat cerita akan peristiwa yang telah ia buat. Ia pembuat bom bagi pembaca kisahnya. Ia luarbiasa.

Senin, 25-01-2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar