“Allan Bersama
Bom-Nya”
Eksperimental, humor, dan bersahaja, sepertinya itulah
kata ungkapan yang dapat mewakili kesan saya terhadap tokoh dalam Novel karya
seorang Jonas Jonasson, “The
100-Years-Old Man Who Climbed Out Of The Window and Disappeared” ini.
Disaat lembar awal mulai memenuhi mata dan pikiran mulai mencerna makna kata, maka
disaat itu seperti ada sesuatu yang membuatku terikat hingga tidak menyurutkan
semangatku untuk mengetahui kisah seorang Allan (tokoh utama) yang begitu
menakjubkan. Perjalanan hidup yang begitu fantastis.
Ia
dapat saya katakan adalah seorang petualang yang betul-betul gigih dengan
prinsipnya sendiri tanpa terpengaruhi oleh orang lain. Tampak dari sikapnya
yang sangat tidak suka disaat seseorang membahas politik meskipun pada
kenyataannya dalam cerita, segala petualangannya berada dalam lingkar politik
(Prinsip). Bahkan berada pada zona yang sangat berbahaya. Kisah Allan mengambarkan
kondisi abad 20-an, saat itu terjadi suatu pertempuran ideologi yang
dilatarbelakangi oleh dua negara kuat dimana negara-negara tersebut ingin
menguasai dunia sesuai dengan ideologi yang dianut masing-masing. Biasanya kalo
di SMA, guru sejarah sering menjelaskan dengan pertempuran antara blok barat
dan blok timur. Komunis dan kapitalis. Disaat kita membaca buku mengenai sejarah
akan peristiwa ini, mungkin membawa kita pada suatu yang ekstrem dan ya sedikit
menjenuhkan.
Namun didalam kisah Allan hal itu dikemas sedemikian rupa
hingga menjadi suatu bingkisan jenaka yang luar biasa. Kocak, sangat kocak. Tak
kalah menariknya diakhir petualangannya ia memilih Indonesia sebagai tempat peristirahatannya
bersama istrinya. Ia sedikit menceritakan akan kondisi politik Indonesia yang sama
saja dengan yang sekarang, korup dan gampang disogok. Cukup terkagum dari tokoh
Allan yang diciptakan Jasson. Nilai-nilai yang ingin disampaikan sungguh begitu
terasa. Misalkan saja, “komitmen” yang
menjadikan Allan sebagai pribadi yang khas/unik. Adapun yang lain adalah
dimana Allan menjadikan dunia sebagai wadah eksperimen. Tiap perjalanan-nya, ia
tak pernah menolak sebelum ia mencobanya.
Ia dapat dikatakan seorang ateis namun tetap memiliki moral
atau jiwa kemanusiaan yang baik. Itu dapat terlihat disaat para tentara Amerika
mecoba untuk memperkosa istri selir Mao The Thung, namun ia membawa sang istri
Mao jauh agar tidak diperkosa. Adapun sisi lain dari dirinya adalah sosok yang
sangat jujur terkecuali disaat sang jaksa mencoba membuat cerita akan peristiwa
yang telah ia buat. Ia pembuat bom bagi pembaca kisahnya. Ia luarbiasa.
Senin, 25-01-2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar